Jangkauan Tangerang Selatan – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) menyatakan kesiapannya menjadi daerah percontohan nasional dalam penerapan teknologi Waste to Energy atau konversi sampah menjadi listrik. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Pemkot Tangsel dalam mengatasi persoalan sampah yang semakin kompleks sekaligus mendukung transisi energi bersih di Indonesia.
Jawaban Atas Masalah Sampah Perkotaan
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel menjelaskan, produksi sampah di wilayah Tangsel terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi. Saat ini, volume sampah mencapai lebih dari 600 ton per hari, sebagian besar berasal dari rumah tangga dan pasar tradisional.
“Selama ini, sebagian besar sampah kita masih dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang. Namun kapasitas TPA semakin terbatas. Karena itu, kami perlu solusi inovatif dan berkelanjutan. Salah satunya adalah mengubah sampah menjadi energi listrik,” ujarnya, Sabtu (12/10).
Teknologi pengolahan sampah menjadi listrik disebut mampu mengurangi timbunan sampah hingga 80 persen sekaligus menghasilkan energi terbarukan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Proyek Kolaboratif dengan Pemerintah Pusat
Rencana pengembangan Waste to Energy Plant di Tangsel mendapat dukungan langsung dari pemerintah pusat melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Pemkot Tangsel kini tengah memfinalisasi kajian teknis, termasuk lokasi pembangunan, kapasitas pengolahan, dan potensi daya listrik yang dihasilkan. “Kami ingin menjadi kota pertama di Banten yang benar-benar mengoperasikan sistem pengolahan sampah menjadi energi. Kajian teknisnya hampir rampung,” ujar Kepala DLH Tangsel.
Dalam tahap awal, instalasi ini diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 5 megawatt (MW) listrik setiap harinya, cukup untuk memenuhi kebutuhan energi ribuan rumah tangga.

Baca juga: Wali Kota Tangsel Benyamin Paparkan Progres Penanganan Sampah Berbasis PSEL ke Danantara
Dukungan dari Masyarakat dan Swasta
Program ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat dan pelaku usaha. Sejumlah investor dikabarkan tertarik untuk bekerja sama melalui skema kemitraan publik-swasta (PPP).
Sementara itu, warga Tangsel menyambut positif rencana ini karena dinilai dapat mengatasi tumpukan sampah dan memberikan nilai tambah ekonomi. “Kalau sampah bisa jadi listrik, artinya kita bukan hanya membersihkan lingkungan, tapi juga menciptakan energi baru. Ini luar biasa,” kata Yuli, warga Serpong.
Langkah Menuju Kota Hijau
Wali Kota Tangerang Selatan menegaskan, proyek ini sejalan dengan visi menjadikan Tangsel sebagai kota hijau dan berkelanjutan. Selain mengurangi beban TPA, program ini juga akan memperkuat komitmen daerah dalam mendukung target Net Zero Emission tahun 2060.
“Transformasi energi dari sampah menjadi listrik bukan hanya soal teknologi, tapi perubahan pola pikir. Kami ingin masyarakat sadar bahwa sampah memiliki nilai ekonomi,” tegasnya.
Harapan Pemerintah Daerah
Pemkot Tangsel berharap, proyek sampah jadi listrik dapat segera terealisasi dan menjadi model yang bisa direplikasi di kota-kota lain di Indonesia. Pemerintah berkomitmen untuk terus mengedukasi masyarakat agar memilah sampah sejak dari sumbernya, sehingga proses konversi energi bisa lebih efisien.
Dengan langkah progresif ini, Tangerang Selatan selangkah lebih maju menuju kota modern yang bersih, mandiri energi, dan ramah lingkungan.






