Jangkauan Tangerang Selatan – Persoalan sampah yang menggunung di sejumlah ruas jalan utama Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kembali menjadi sorotan publik. Tumpukan sampah yang dibiarkan berhari-hari tak hanya mengganggu kenyamanan dan estetika kota, tetapi juga menimbulkan bau menyengat, risiko kesehatan, serta kemacetan lalu lintas.
Fenomena ini menandakan persoalan pengelolaan sampah perkotaan yang belum tertangani secara optimal, terutama di wilayah dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi yang tinggi.
Keluhan Warga: Bau Menyengat dan Ganggu Aktivitas
Warga yang melintasi jalan utama di Tangsel mengeluhkan kondisi tumpukan sampah yang semakin parah, khususnya pada jam-jam sibuk. Sampah rumah tangga dan limbah usaha tercampur begitu saja di tepi jalan, sebagian bahkan meluber ke badan jalan.
Selain bau menyengat, keberadaan sampah juga memicu kekhawatiran akan munculnya penyakit, meningkatnya populasi lalat dan tikus, serta potensi banjir saat hujan turun akibat saluran air yang tersumbat.
Dampak Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat
Pakar lingkungan menilai tumpukan sampah yang tidak tertangani berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang. Sampah organik yang membusuk menghasilkan gas berbahaya, sementara sampah plastik dan limbah lainnya dapat mencemari tanah dan air.
Kondisi tersebut dinilai sangat berisiko bagi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lansia, serta bertentangan dengan konsep kota layak huni dan berkelanjutan.
Pakar Nilai Sistem Pengelolaan Sampah Perlu Dibongkar Ulang
Pakar tata kota dan lingkungan menilai persoalan sampah di kota besar seperti Tangsel bukan semata persoalan teknis pengangkutan, tetapi juga menyangkut sistem dan tata kelola.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi menyeluruh mulai dari hulu hingga hilir, termasuk pola konsumsi masyarakat, sistem pemilahan sampah, hingga kapasitas tempat pengolahan dan pembuangan akhir.

Baca juga: Peringatan Hari Ibu ke-97 di Tangsel, Pilar Tegaskan Peran Strategis Perempuan dalam Pembangunan
Saran Pakar untuk Kota Besar
Untuk mengatasi persoalan sampah di kota besar, pakar memberikan sejumlah rekomendasi strategis, di antaranya:
-
Penguatan pemilahan sampah dari sumbernya, yakni rumah tangga, pasar, dan kawasan komersial.
-
Optimalisasi bank sampah dan TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) agar sampah tidak seluruhnya berakhir di TPA.
-
Pemanfaatan teknologi pengolahan sampah, seperti pengomposan dan pengolahan energi dari sampah.
-
Penegakan aturan dan sanksi tegas bagi pembuang sampah sembarangan maupun pengelola usaha yang lalai.
-
Peningkatan edukasi dan partisipasi publik, agar masyarakat menjadi bagian dari solusi.
Menurut pakar, tanpa perubahan pola pikir dan sistem, persoalan sampah akan terus berulang meskipun armada pengangkut ditambah.
Peran Pemerintah Daerah Jadi Kunci
Pemerintah daerah dinilai memegang peran sentral dalam mengatasi persoalan ini. Selain memastikan jadwal pengangkutan sampah berjalan optimal, Pemkot Tangsel juga didorong untuk menyusun kebijakan jangka panjang yang berorientasi pada pengurangan sampah.
Kolaborasi dengan sektor swasta dan komunitas lingkungan juga dianggap penting untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan.
Harapan Warga akan Solusi Nyata
Warga berharap pemerintah tidak hanya melakukan penanganan sementara, seperti pengangkutan darurat, tetapi juga menghadirkan solusi konkret dan berkelanjutan. Mereka menilai penanganan sampah harus menjadi prioritas, seiring Tangsel yang terus berkembang sebagai kota penyangga ibu kota dengan mobilitas tinggi.
Masalah sampah, menurut warga dan pakar, adalah cerminan tata kelola kota. Penanganan yang serius dinilai akan berdampak langsung pada kualitas hidup, kesehatan, serta citra Kota Tangerang Selatan sebagai kota modern dan layak huni.






