Jangkauan Tangerang Selatan – Persoalan sampah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah serius bagi pemerintah daerah. Meski sebagian sampah telah dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cileungsi, permasalahan pengelolaan sampah di wilayah perkotaan ini dinilai belum sepenuhnya teratasi dan masih memicu keluhan masyarakat.
Berbagai titik di Tangsel masih menghadapi persoalan penumpukan sampah, keterbatasan armada, hingga persoalan sistem pengelolaan yang belum optimal.
Pembuangan ke Cileungsi Bukan Solusi Jangka Panjang
Kebijakan membuang sampah Tangsel ke TPA Cileungsi dilakukan sebagai langkah darurat untuk mengurangi tekanan di TPA lokal. Namun, langkah ini dinilai belum menyentuh akar persoalan, karena hanya memindahkan sampah dari satu wilayah ke wilayah lain.
Pengamat lingkungan menilai, ketergantungan pada TPA di luar daerah justru berpotensi menimbulkan persoalan baru, baik dari sisi biaya operasional, dampak lingkungan, maupun hubungan antardaerah.
“Pembuangan ke luar daerah hanya solusi sementara, bukan penyelesaian jangka panjang,” ujar salah satu pemerhati lingkungan.
Timbulan Sampah Terus Meningkat
Sebagai kota dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi yang tinggi, Tangsel menghasilkan timbulan sampah dalam jumlah besar setiap harinya. Peningkatan volume sampah ini tidak selalu diimbangi dengan peningkatan kapasitas pengelolaan, baik dari sisi sarana, prasarana, maupun sumber daya manusia.
Akibatnya, meski sampah telah dikirim ke Cileungsi, masih terdapat keterlambatan pengangkutan di sejumlah wilayah permukiman dan kawasan komersial.

Baca juga: Selokan di Pasar Cimanggis Juga Jadi Tempat Buang Sampah, Muncul Bau Busuk
Keluhan Warga Masih Bermunculan
Sejumlah warga Tangsel mengaku masih sering menemukan tumpukan sampah di lingkungan tempat tinggal mereka, terutama di kawasan padat penduduk dan pasar tradisional. Bau tidak sedap dan potensi gangguan kesehatan menjadi keluhan utama masyarakat.
“Kadang sampah baru diangkut setelah menumpuk berhari-hari. Padahal sudah ada kebijakan buang ke luar daerah,” keluh seorang warga.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas sistem distribusi dan pengangkutan sampah di tingkat lokal.
Tantangan Armada dan Infrastruktur
Salah satu kendala utama yang dihadapi Pemkot Tangsel adalah keterbatasan armada pengangkut sampah serta infrastruktur pendukung. Jarak tempuh ke TPA Cileungsi yang cukup jauh juga berdampak pada frekuensi pengangkutan dan biaya operasional.
Selain itu, waktu tempuh yang panjang menyebabkan armada tidak bisa melakukan pengangkutan secara maksimal dalam sehari, sehingga berdampak pada penumpukan sampah di titik-titik tertentu.
Dorongan Perbaikan Sistem Pengelolaan Sampah
Berbagai pihak mendorong Pemkot Tangsel untuk segera melakukan pembenahan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh. Mulai dari penguatan pengolahan sampah di sumber, optimalisasi bank sampah, hingga penerapan teknologi pengolahan modern dinilai perlu dipercepat.
Pengurangan sampah dari hulu, seperti pemilahan di tingkat rumah tangga dan kawasan usaha, juga dianggap krusial untuk menekan volume sampah yang harus dibuang ke TPA.
Perlu Kolaborasi dan Kesadaran Masyarakat
Pemerintah daerah menegaskan bahwa penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata. Diperlukan kolaborasi dengan sektor swasta, komunitas, dan masyarakat luas untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah dinilai menjadi kunci keberhasilan jangka panjang.
Harapan Solusi Berkelanjutan
Problem sampah di Tangsel menjadi cerminan tantangan perkotaan modern yang kompleks. Masyarakat berharap pemerintah daerah tidak hanya mengandalkan solusi darurat, tetapi segera menghadirkan kebijakan dan infrastruktur pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Tanpa langkah strategis dan terintegrasi, persoalan sampah dikhawatirkan akan terus berulang meski sampah dibuang hingga ke luar wilayah Tangsel.






