Jangkauan Tangerang Selatan – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang terus menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan di bidang ketahanan pangan. Salah satu langkah nyata yang kini digaungkan ialah Gerakan Stop Boros Pangan, sebuah inisiatif untuk mengajak masyarakat lebih bijak dalam mengelola konsumsi makanan dan mengurangi limbah pangan.
Kegiatan peluncuran gerakan ini digelar di Alun-Alun Ahmad Yani, Kota Tangerang, Rabu (29/10/2025), dan dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari ASN, pelajar, pelaku usaha kuliner, hingga komunitas lingkungan.
Upaya Kurangi Limbah Makanan
Wali Kota Tangerang, Arief R. Wismansyah, dalam sambutannya mengatakan bahwa gerakan ini merupakan bagian dari upaya Pemkot untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap keberlanjutan sumber daya pangan.
“Setiap hari, masih banyak makanan yang terbuang sia-sia, baik di rumah tangga, restoran, maupun acara-acara besar. Padahal, di sisi lain masih ada masyarakat yang kesulitan mendapatkan pangan. Ini ironi yang harus kita akhiri,” ujar Arief.
Ia menekankan bahwa masalah pemborosan pangan (food waste) tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga lingkungan. Limbah makanan yang menumpuk di TPA menghasilkan emisi gas metana yang memperparah perubahan iklim.
“Kalau kita bisa menekan limbah makanan, berarti kita juga turut menjaga bumi dan menghemat anggaran keluarga. Ini gerakan sederhana, tapi dampaknya besar,” tambahnya.
Edukasi dan Kolaborasi Komunitas
Gerakan Stop Boros Pangan ini tidak hanya berupa kampanye seremonial. Pemkot Tangerang, melalui Dinas Ketahanan Pangan, telah menyiapkan program edukasi dan pendampingan kepada masyarakat, pelaku UMKM, serta sekolah-sekolah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Tangerang, Fauziah, menjelaskan bahwa program ini akan dilakukan secara berkelanjutan dengan menggandeng komunitas peduli lingkungan dan organisasi wanita.
“Kami ingin masyarakat memahami konsep food sustainability — dari cara membeli bahan makanan seperlunya, mengolah dengan efisien, hingga memanfaatkan sisa makanan. Sekolah-sekolah juga akan diajak menerapkan pola makan bijak di kantin,” jelasnya.
Selain itu, Pemkot juga akan mengembangkan bank pangan (food bank) di beberapa wilayah. Bank pangan ini berfungsi menyalurkan makanan layak konsumsi dari hotel, restoran, dan pasar kepada masyarakat yang membutuhkan.

Baca juga: Ansor Kota Tangsel Cetak Sejarah Baru, Sukses Gelar Susbalan Angkatan 1
Dukung Target Pengurangan Sampah Nasional
Gerakan Stop Boros Pangan juga sejalan dengan target nasional untuk mengurangi sampah makanan hingga 30 persen pada tahun 2030, sebagaimana diatur dalam Strategi dan Rencana Aksi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga.
Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia membuang sekitar 48 juta ton makanan setiap tahun, setara dengan 184 kilogram per orang. Kota Tangerang berupaya menjadi salah satu daerah yang berkontribusi nyata dalam menekan angka tersebut.
“Kami tidak ingin Tangerang hanya jadi kota maju dari sisi infrastruktur, tapi juga dari kesadaran warganya dalam menjaga lingkungan dan menghargai pangan,” ujar Arief.
Harapan untuk Perubahan Gaya Hidup
Melalui gerakan ini, Pemkot Tangerang mengajak masyarakat untuk mulai dari hal kecil, seperti mengambil makanan secukupnya, mengolah ulang sisa makanan, dan menyalurkan kelebihan makanan kepada yang membutuhkan.
“Gerakan ini bukan sekadar kampanye sesaat. Ini gaya hidup baru yang harus kita biasakan bersama,” tegas Arief.
Pemkot Tangerang berencana menjadikan Gerakan Stop Boros Pangan sebagai agenda tahunan dan mengintegrasikannya dalam berbagai kegiatan sosial dan lingkungan di tingkat kelurahan.
Dengan dukungan seluruh elemen masyarakat, Tangerang diharapkan menjadi kota percontohan pengelolaan pangan berkelanjutan di Indonesia — kota yang tidak hanya kenyang, tetapi juga bijak dalam menghargai setiap butir nasi.






