Tangerang Selatan – Aksi sekelompok ojek pangkalan (opang) yang menghentikan secara paksa ojek online (ojol) ketika sedang membawa penumpang di kawasan Tangerang Selatan (Tangsel) berbuntut panjang. Insiden ini menimbulkan keresahan warga, terutama para pengguna transportasi online yang merasa hak mobilitas mereka terancam.
Kronologi Kejadian
Insiden bermula ketika seorang pengemudi ojol mendapat order penumpang di kawasan Pamulang, Tangsel. Saat hendak berangkat, motor ojol tersebut dicegat beberapa opang yang menuduhnya melanggar “wilayah operasi” mereka.
Para opang kemudian melarang ojol melanjutkan perjalanan dan meminta penumpang untuk turun. Kejadian ini sempat terekam warga dan videonya beredar luas di media sosial, memicu gelombang reaksi dari warganet yang menilai tindakan itu sudah keterlaluan.
Respon Penumpang dan Warga
Penumpang yang sempat diturunkan mengaku trauma dengan kejadian tersebut. Ia menilai transportasi publik seharusnya memberikan rasa aman dan nyaman, bukan justru menghadirkan ketakutan.
“Sebagai pengguna, saya pilih ojol karena lebih praktis dan jelas tarifnya. Tapi kalau seperti ini, kami jadi takut. Padahal kami cuma mau pulang dengan aman,” keluhnya.
Sejumlah warga Tangsel juga menyayangkan insiden tersebut, mengingat transportasi online sudah menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari masyarakat modern.
Baca juga: Sedang Gelar Pasar Murah, Polisi Bantu Padamkan Kebakaran Warung di Tangsel
Polisi Turun Tangan
Polres Tangsel langsung bergerak cepat dengan memanggil sejumlah pihak yang terlibat. Kapolres menegaskan bahwa tindakan main hakim sendiri tidak bisa dibenarkan dan akan ditindak tegas.
“Kami sedang melakukan pendalaman. Jika ada tindak pidana, tentu akan kami proses sesuai hukum yang berlaku,” tegas Kapolres Tangsel.
Polisi juga berencana mempertemukan perwakilan opang dan ojol untuk mencari solusi damai yang tidak merugikan masyarakat.
Persoalan Lama yang Belum Usai
Konflik antara opang dan ojol bukanlah isu baru di Tangerang Selatan. Sejak kehadiran transportasi online, ketegangan kerap muncul karena opang merasa kehilangan lahan mencari nafkah. Meski pemerintah daerah sudah beberapa kali memediasi, gesekan masih saja terjadi.
Pengamat transportasi menilai perlu adanya regulasi yang tegas dan sosialisasi yang berkesinambungan agar konflik serupa tidak terus berulang.
Desakan Publik: Jamin Keamanan Penumpang
Masyarakat mendesak pemerintah kota dan aparat penegak hukum untuk memberikan kepastian hukum agar pengguna transportasi online tidak lagi menjadi korban ketakutan di jalan.
“Kalau pemerintah tidak tegas, konflik ini akan terus terjadi dan yang dirugikan adalah masyarakat,” ujar salah satu tokoh masyarakat Tangsel.
Penutup
Insiden penghentian paksa ojol oleh opang di Tangsel menjadi sinyal bahwa konflik transportasi konvensional dan online masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Penegakan hukum yang adil serta kebijakan transportasi yang berpihak pada kepentingan publik diharapkan bisa menjadi jalan keluar agar kasus serupa tidak terus terulang.






