Jangkauan Tangerang Selatan – Siapa sangka, tumpukan sampah botol plastik yang selama ini dianggap tidak berguna justru menjadi sumber rezeki besar bagi sekelompok pemulung di Tangerang Selatan (Tangsel). Melalui sebuah koperasi yang dikelola secara profesional, para pemulung ini berhasil meraup omset hingga Rp1,2 miliar per bulan hanya dari hasil pengumpulan dan penjualan botol plastik.
Koperasi yang dirintis sejak beberapa tahun lalu ini kini menjadi contoh sukses pengelolaan sampah berbasis komunitas yang mampu mengangkat taraf hidup masyarakat kecil.
Awalnya Hanya Mengumpulkan Botol di TPS
Ketua koperasi menceritakan bahwa usaha ini bermula dari kegiatan sederhana: pemulung mengumpulkan botol plastik di Tempat Penampungan Sementara (TPS), jalanan, dan permukiman. Namun, seiring meningkatnya permintaan industri daur ulang, mereka mulai memikirkan cara agar penghasilan lebih stabil dan pengelolaan sampah lebih terstruktur.
Melalui pendampingan beberapa lembaga dan pemerintah kota, para pemulung kemudian membentuk koperasi agar kegiatan mereka memiliki badan hukum, akses pasar yang jelas, serta sistem pembagian hasil yang lebih adil.
“Kami dulu hanya mengumpulkan, menjual ke pengepul, dan hasilnya tidak menentu. Setelah ada koperasi, semuanya lebih teratur. Harga juga lebih bagus,” ungkapnya.
Permintaan Industri Plastik Daur Ulang Melonjak
Besarnya omset koperasi tidak lepas dari meningkatnya kebutuhan industri terhadap bahan baku plastik daur ulang. Botol-botol yang dikumpulkan para pemulung dipilah, dibersihkan, kemudian dijual dalam jumlah besar ke pabrik daur ulang.
Jenis sampah yang paling bernilai antara lain:
-
Botol PET (air mineral, minuman bersoda)
-
HDPE (botol sabun, botol susu)
-
Tutup botol berwarna tertentu
-
Plastik kemasan yang masih bisa dicacah
Harga sampah botol PET yang sudah dipilah bahkan bisa mencapai Rp5.500–Rp7.000 per kilogram, dan dalam sebulan koperasi ini mampu mengumpulkan lebih dari 150 ton botol plastik.
Dengan perputaran volume sebesar itu, omset koperasi pun melonjak hingga Rp1,2 miliar per bulan.

Baca juga: Sepekan Dirawat di RS, Siswa SMPN Tangsel Korban Bullying Meninggal Dunia
Pendapatan Pemulung Naik Berlipat
Tidak hanya koperasi yang berkembang, pendapatan para anggota—yang mayoritas pemulung—juga meningkat tajam. Jika dulu mereka hanya mendapatkan Rp50.000–Rp70.000 per hari, kini sebagian anggota bisa membawa pulang hingga Rp150.000–Rp250.000 per hari tergantung jumlah dan kualitas botol yang dikumpulkan.
“Sekarang hidup kami jauh lebih baik. Anak-anak bisa sekolah, dan tidak lagi bingung bayar kontrakan,” kata salah satu pemulung yang telah bergabung sejak awal berdirinya koperasi.
Kelola Sampah Jadi Usaha Serius
Koperasi ini juga telah berkembang menjadi unit usaha yang memiliki sistem administrasi, gudang penyimpanan, mesin press plastik, hingga jaringan pembeli dari luar daerah. Pengepakan dilakukan secara profesional agar volume lebih efisien saat dikirim ke pabrik.
Selain itu, koperasi juga mulai mengembangkan pelatihan untuk anggota baru, mengajarkan cara memilah sampah bernilai tinggi serta cara menjaga kualitas agar harga tetap stabil.
“Koperasi ini bukan lagi usaha kecil-kecilan, tapi sudah menjadi bisnis yang memperbaiki kehidupan banyak keluarga,” jelas pengurus koperasi.
Pemerintah Beri Dukungan, Tangsel Dijuluki Kota Daur Ulang
Melihat kesuksesan koperasi pemulung ini, Pemerintah Kota Tangsel memberikan dukungan melalui program bank sampah, pelatihan UMKM daur ulang, dan akses permodalan. Pemkot berharap keberhasilan ini bisa dicontoh oleh daerah lain untuk mengurangi sampah sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat.
“Kisah koperasi ini membuktikan bahwa sampah punya nilai ekonomi besar jika dikelola dengan benar,” ujar seorang pejabat DLH Tangsel.
Saat ini, Tangsel mulai dikenal sebagai salah satu kota dengan gerakan daur ulang berbasis masyarakat paling aktif di Jabodetabek.
Dari Sampah Menjadi Harapan
Kisah koperasi pemulung Tangsel adalah bukti bahwa keberlanjutan dan pemberdayaan dapat berjalan seiring. Dengan modal sampah botol, para pemulung berhasil menciptakan roda ekonomi yang kuat dan berkelanjutan, sekaligus membantu kota mengurangi beban sampah.
Dengan omset miliaran rupiah dan dampak sosial yang besar, koperasi ini kini dianggap sebagai role model pengelolaan sampah modern yang mengubah masalah menjadi peluang emas.






